Di Bawah Cahaya Bulan

betapa sepi bulan itu, sendiri, menatapmu

demikian pasi, cahayanya benderang, tak lagi kau nikmati

 

di balik jendela, siapa menyimpan cahaya bulan?

bayang-bayang terbawa awan, melintas di langit sepi, sepimu

yang puisi

 

matanya mata rembulan, cahayanya jauh sampai, ke bilik-bilik

rindu, anganmu menggapai, gapai

 

di bawah cahaya bulan, siapa yang berayun dari dahan ke

dahan? beringsut angin, berkesiut dari sudut ke sudut,

kenang

Bookmark and Share

Article written by

Nanang Suryadi, lahir di Pulomerak, Serang pada 8 Juli 1973. Buku puisinya: Sketsa (HP3N, 1993), Sajak Di Usia Dua Satu (1994), dan Orang Sendiri Membaca Diri (SIF, 1997), Silhuet Panorama dan Negeri Yang Menangis (MSI,1999) Telah Dialamatkan Padamu (Dewata Publishing, 2002), Cinta, Rindu dan Orang-orang Yang Menyimpan Api dalam Kepalanya (UB Press, 2010), BIAR! (Indie Book Corner, 2011), Yang Merindu Yang Mencinta (Nulisbuku, 2012), Derai Hujan Tak Lerai (Nulisbuku, 2012), Kenangan Yang Memburu (Nulisbuku, 2012) Sedangkan antologi puisi bersama rekan-rekan penyair, antara lain: Cermin Retak(Ego, 1993), Tanda (Ego- Indikator, 1995), Kebangkitan Nusantara I (HP3N, 1994), Kebangkitan Nusantara II (HP3N, 1995), Bangkit (HP3N, 1996), Getar (HP3N, 1995 ), Batu Beramal II (HP3N, 1995),Sempalan (FPSM, 1994), Pelataran (FPSM, 1995), Interupsi (1994), Antologi Puisi Indonesia (Angkasa-KSI, 1997), Resonansi Indonesia (KSI, 2000), Graffiti Gratitude (Angkasa-YMS, 2001), Ini Sirkus Senyum (Komunitas Bumi Manusia, 2002), Hijau Kelon & Puisi 2002 (Penerbit Buku Kompas, 2002). Saat ini mengelola portal seni budaya sastra: fordisastra.com, cybersastra.org dan jendelabudaya.com Email: nanangsuryadi@yahoo.com Situs: http://nanangsuryadi.web.id http://puisi.lecture.ub.ac.id http://nanangsuryadi.com http://nanangsuryadi.lecture.ub.ac.id

Please comment with your real name using good manners.

Leave a Reply