yang menatap bulan menyimpan bayang-bayang, menari
sendirian
yang menatap sepi, membujuk rembulan, meminta cahayanya
menemani, dia bercakap sendiri
diamlah sebentar, akan kubacakan sebaris sajak, merayakan
segala sepi milik para penyair
adakah yang kerap merasa sia-sia? kata-kata menjelma buih,
terhempas gelombang ribuan kali

Related Posts via Taxonomies
Nanang Suryadi, lahir di Pulomerak, Serang pada 8 Juli 1973. Buku puisinya: Sketsa (HP3N, 1993), Sajak Di Usia Dua Satu (1994), dan Orang Sendiri Membaca Diri (SIF, 1997), Silhuet Panorama dan Negeri Yang Menangis (MSI,1999) Telah Dialamatkan Padamu (Dewata Publishing, 2002), Cinta, Rindu dan Orang-orang Yang Menyimpan Api dalam Kepalanya (UB Press, 2010), BIAR! (Indie Book Corner, 2011), Yang Merindu Yang Mencinta (Nulisbuku, 2012), Derai Hujan Tak Lerai (Nulisbuku, 2012), Kenangan Yang Memburu (Nulisbuku, 2012) Sedangkan antologi puisi bersama rekan-rekan penyair, antara lain: Cermin Retak(Ego, 1993), Tanda (Ego- Indikator, 1995), Kebangkitan Nusantara I (HP3N, 1994), Kebangkitan Nusantara II (HP3N, 1995), Bangkit (HP3N, 1996), Getar (HP3N, 1995 ), Batu Beramal II (HP3N, 1995),Sempalan (FPSM, 1994), Pelataran (FPSM, 1995), Interupsi (1994), Antologi Puisi Indonesia (Angkasa-KSI, 1997), Resonansi Indonesia (KSI, 2000), Graffiti Gratitude (Angkasa-YMS, 2001), Ini Sirkus Senyum (Komunitas Bumi Manusia, 2002), Hijau Kelon & Puisi 2002 (Penerbit Buku Kompas, 2002). Saat ini mengelola portal seni budaya sastra: fordisastra.com, cybersastra.org dan jendelabudaya.com
Email: nanangsuryadi@yahoo.com
Situs:
http://nanangsuryadi.web.id
http://puisi.lecture.ub.ac.id
http://nanangsuryadi.com
http://nanangsuryadi.lecture.ub.ac.id
Please comment with your real name using good manners.